TEKS CERITA SEJARAH

 TEKS CERITA SEJARAH

Nama            : Izzah Aisyah Rahma

Kelas             : XII MIPA 9

No. Absen    : 13


Sang Srikandi Pendidikan dari Priangan

Aku Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga Priyayi Sunda (golongan bangsawan Sunda) yaitu Nyi Raden Ayu Rajapermas dengan Raden Rangga Somanagara pada tanggal 4 Desember 1884. Aku biasanya dipanggil dengan sebutan Uwi yang memiliki arti anak gemuk yang hitam manis dan periang. Menurut orang-orang aku seorang anak yang tomboi meski setiap hari aku selalu mengenakan kebaya dan rambut disanggul cepol. Cara bicaraku juga lugas dengan tutur kata yang tegas, bahkan kadang aku suka berbicara bernada keras tak seperti kebanyakan perempuan Sunda lainnya yang bertutur halus. Bahkan karena sikapku yang lincah dan tak bisa diam, aku pernah terjatuh saat memanjat pohon untuk mengambil buah mangga sehingga tangan kananku patah tulang cukup parah. Kecelakaan itu membuat aku yang keturunan ningrat ini menjadi kidal. Sehingga tangan kiriku lebih aktif digunakan dibanding tangan kananku.

Orang tuaku bersikukuh menyekolahkanku ke sekolah Belanda meski hal tersebut melanggar adat istiadat karena pada saat itu yang diperbolehkan ke sekolah Belanda adalah seorang laki-laki yang memiliki gelar bangsawan. Aku sempat bersekolah di Eerste Klasse School namun hanya sampai kelas dua. Kedua orang tuaku merupakan pejuang Indonesia yang menentang pemerintah Hindia Belanda. Dikarenakan menentang Hindia Belanda, Pada Juli 1893 kedua orang tuaku diasingkan ke Ternate, Maluku oleh Pemerintah Hindia Belanda dan terpisah olehku yang berada di Bandung. Orang tuaku dituduh terlibat dalam sabotase acara pacuan kuda di Tegallega untuk mencelakai bupati Bandung yang baru yaitu R.A.A. Martanegara. Setelah kepergian orang tuaku ke Ternate, pendidikanku menjadi sangat berantakan sehingga aku tidak melanjutkan pendidikanku dan aku sangat sedih hingga kesepian. Namun aku membuat rasa sedih dan kesepian itu menjadi senang dengan membaca buku sendirian di danau dekat rumah. Setelah beberapa bulan aku ditinggal oleh orang tuaku dan aku mendapat kabar bahwa ayahku meninggal di Ternate dan ibuku tetap tinggal di sana.

Setelah ayahku meninggal, kemudian aku diasuh oleh pamanku (kakak ibuku) yang menjadi patih di Cicalengka yang bernama Raden Demang Suriakarta Adiningrat. Aku beserta kaka dan adikku saat pindah kesana diperlakukan dingin oleh semua orang yang berada disitu, namun ada satu orang yang sangat membantuku dan selalu membelaku beserta kaka dan adikku yaitu Mbok Asih. Aku beserta kakak dan adikku ditempatkan di kamar belakang, setara dengan para abdi dalem. Selama di sini, hidupku memiliki berbagai tekanan sekaligus kenangan pahit. Salah satunya aku diharuskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang cukup banyak supaya aku beserta kaka dan adikku bisa mendapatkan makanan.

Kata pamanku, aku beserta kakak dan adikku diperlakukan seperti ini karena hukuman pembuangan merupakan aib bagi golongannya. Namun, hal itu tak membuatku berkecil hati. Justru karena semua tugas rumah yang diberikan itu, aku menjadi terampil melakukan banyak hal, di antaranya adalah memasak, menjahit, menyulam, dan merenda. Walaupun aku diperlakukan seperi itu oleh pamanku aku tidak pernah merasakan sakit hati karena saat aku berada di tempat paman, aku mendapatkan ilmu pengetahuan terkait adat budaya Sunda yang disampaikan oleh Agan Eni, istri keempat Patih Cicalengka, kepada para anak perempuan dari kalangan menak Priangan yang tinggal juga di situ. Anak-anak perempuan itu umumnya adalah anak-anak para kuwu, cutak, carik, mantri ulu-ulu dan sebagainya. Mereka sengaja disuruh mondok di rumah Patih Cicalengka untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Agan Eni. Tak hanya mempelajari adat Sunda, aku juga mempelajari tentang budaya dan adat bangsa Barat saat aku ditugaskan untuk mengantar para sepupuku belajar bahasa Belanda ke rumah seorang warga Belanda yang memiliki sekolah. Tugasku hanyalah mengantar saja dan tidak diperbolehkan untuk belajar. Pada saat itu, saya merasa sedih karena saya tidak diperbolehkan untuk belajar. Tapi, hal tersebut tak membuatku kehilangan akal. Saat para sepupuku sedang belajar, aku sering kali mengintip dari balik pintu dan ikut belajar bahasa Belanda yang sedang diajarkan. Aku juga mendengarkan dengan seksama pelafalannya yang benar.

Hingga pada suatu hari, saat aku melakukan aktivitasku seperti biasanya yaitu mengantarkan para sepupuku untuk belajar dan aku mengintip dari bilik pintu, aku ketahuan oleh guru lain yang mengajar di tempat itu juga. Saat dia meneriakiku sontak saja aku kaget dan menoleh ke arah sumber suara itu berasal, saat aku melihat orang itu ternyata dia terlihat lebih tua dariku. Namun saat aku menoleh ke arahnya, dia terdiam sambil melihat ke arahku dan aku langsung ditarik dan di ajak ke danau di dekat sekolah itu. Saat berada di danau, dia tiba-tiba memperkenalkan dirinya.

“Bolehkah aku tahu namamu?” ucap dia kepadaku.

“Tsss, tsss,” aku mendiamkannya sejenak dengan raut muka yang sedikit bingung.

Dia bertanya lagi dengan kata yang sama “Bolehkah aku tahu namamu?”

“Saya Dewi Sartika, lalu kamu?” jawabku dengan terbata-bata       

“Aku Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang merupakan guru disini, aku senang bertemu denganmu” jawab dia dalam bahasa Belanda.

“Aku juga senang bertemu denganmu” ucapku dalam bahasa Belanda juga.

“Kamu bisa bahasa Belanda juga?” tanya dia dengan nada sedikit kaget.

“Tentu saja, kata itu sering aku dengar saat menemani sepupuku untuk belajar disini.”

“Kau hebat sekali. Kalau aku boleh tahu, darimanakah kamu berasal?” tanya dia lagi.

“Aku tinggal dengan pamanku yang bernama Raden Demang Suriakarta Adiningrat” jawabku.

“Bukankah beliau seorang menak beradat luhur yang banyaka orang menitipkan anaknya di rumah itu untuk belajar peri kehidupan kepriyayian? Berarti kau keturunan seorang bangsawan?” tanya dia dengan semangat.

“Iya, beliau seorang menak beradat luhur dan aku keturunan bangsawan. Mohon maaf sebelumnya saya harus kembali ke tempat tadi karena sepupu-sepupuku akan segera pulang.” jawabku. Sejak pertemuanku dengan R.Kd.Agah Suriawinata, aku selalu memikirkannya dan menunggunya saat aku mengantar sepupu-sepupuku.

Sepulang dari mengantar sepupu-sepupuku belajar, aku kemudian bermain sekolah-sekolahan di belakang gedung kepatihan dengan anak-anak pembantu seusiaku yang tidak pernah berkesempatan untuk belajar. Peranku di situ adalah menjadi seorang guru. Tapi tak hanya sekadar bermain, aku benar-benar mengajari mereka bagaimana caranya membaca dan menulis seperti apa yang dipelajarinya saat menunggu sepupunya itu. Alat-alat yang dipakainya pun sederhana, yaitu menggunakan pecahan genting sebagai media pengganti buku, dan arang yang digunakan sebagai pengganti pena.

Waktu itu, saat aku berumur sekitar sepuluh tahun, ketika penduduk desa Cicalengka digemparkan oleh kemampuan membaca, menulis, dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh banyak anak-anak di bawah umur pemenolong kepatihan. Pada saat itu, berita ini membuat gempar karena pada waktu itu belum ada anak (apalagi anak rakyat jelata) yang mempunyai kemampuan menyerupai itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan yaitu aku. Kegiatan ini aku lakukan sampai beberapa tahun.

Pada saat di rumah pamanku, aku memiliki teman sekamar yang bernama Nyi Oewit. Di antara gadis-gadis seusiaku, aku adalah satu-satunya perempuan yang sempat mengenyam pendidikan pada saat itu. Maka dari itu, aku sering sekali diminta oleh Nyi Oewit untuk membacakan surat dari laki-laki yang tertarik dengan Nyi Oewit atau sahabatku ini. Saat sahabatku meminta untuk membacakan suratnya aku memiliki sifat yang lumayan jahil. Aku sering kali mengerjai sahabatku itu dan mengubah maksud surat yang dibaca. Bahkan, aku pernah mengartikan surat itu sampai mengalami putus cinta.

Namun lewat peristiwa ini, aku menjadi sadar kalau sahabatku itu ternyata gampang sekali dibodohi karena tidak pernah menempuh pendidikan. Perempuan hanya diajari mengenai adat dan keterampilan untuk mengurus rumah tangga saja. Hal itulah yang membuat wanita dicap lemah karena hanya bisa menggantungkan hidupnya pada suaminya kelak.

Pada saat itu, aku ingin mengubah keadaan, salah satunya dengan mengajari para wanita untuk bisa membaca dan menulis supaya tidak mudah dibodohi. Tentu saja, perjuanganku tidaklah mudah walaupun aku belum memulainya. Terlebih lagi di desa pamanku masih di kelilingi oleh orang-orang yang sudah tua dan masih memegang teguh adat kalau perempuan tak perlu bersekolah.

Cicalengka mungkin memang mengajarkan banyak hal pada diriku, baik keterampilan hidup maupun ilmu eksak. Tapi, aku tidak dapat mewujudkan cita-citanya di sana. Maka dari itu, pada tahun 1902, saat usiaku menginjak 18 tahun, aku memutuskan untuk kembali ke Bandung karena aku mendengar berita bahwa ibuku sudah kembali dari pengasingan. Ayahku tidak kembali karena sudah wafat saat menjalani hukuman pengasingan.

Sesampainya di Bandung pada tahun 1902, aku membulatkan tekad untuk membangun sekolah bagi para perempuan. Nantinya, para murid akan diajari semua keahlian yang aku bisa lakukan. Tak hanya mengenai keterampilan praktis, tapi juga baca tulis. Target murid yang aku ajari adalah anak-anak perempuan dari kalangan rakyat biasa yang tidak mempunyai biaya untuk bersekolah.

Kegiatanku ini ternyata terdengar oleh seorang inspektur pengajaran wilayah Kabupaten Bandung, Cornelis Den Hammer, datang langsung untuk menyaksikan pengajaran yang dilakukan olehku. Seketika, aku kaget dan panik saat melihat inspektur dari  Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mendatangiku karena takut dibubarkan oleh mereka. Namun, aku menerangkan kepada inspektur bahwa kegiatan ini adalah kegiatan informal. Muridnya hanya 20 orang yang juga berasal dari keluarga sendiri. Setelah kejadian itu, sang inspektur sempat beberapa kali mendatangi tempatku untuk mengajar.

Setelah beberapa bulan, pria yang selalu mendatangiku itu kemudian menawariku untuk menjadi guru di sekolah Boemi Poetra milik Belanda. Aku justru langsung menolak tawaran tersebut dan mengutarakan niatku untuk mendirikan sekolah sendiri. Namun gagasan itu membuat aku dipertemukan dengan Bupati Bandung yang saat itu dijabat Raden Aria Adipati Martanagara. Dengan berani aku mengutarakan rencana yang telah aku buat untuk mendirikan Sekolah Kepandaian Perempuan kepada sang bupati. Sayangnya, gagasannya langsung ditolak mentah-mentah oleh sang bupati. Alasan penolakannya tak lain dan tak bukan adalah karena pendidikan wanita tidaklah lazim di zaman itu. Namun hal tersebut tidak membuatku patah semangat. Beberapa waktu kemudian, aku mencoba kembali untuk meyakinkan Bupati Martanegara. Melihat kegigihanku, akhirnya sang bupati menyetujui pendirian sekolah untuk anak-anak perempuan.

Namun untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, bupati menyarankan agar sekolahnya memakai Pendopo Kabupaten Bandung terlebih dahulu. Jika semuanya berjalan dengan lancar dan murid semakin banyak, maka aku diperbolehkan untuk pindah ke tempat lain. Lalu pada tanggal 16 Januari 1904, akupun resmi mendirikan sekolah yang di beri nama Sakola Istri yang pertama kali didirikan se-Hindia-Belanda.

Di tahun pertama, Sakola Istri mendapatkan 20 orang murid. Mereka kebanyakan adalah anak-anak pegawai yang bekerja di kantor kabupaten. Sedangkan tenaga pengajar ada tiga orang, yaitu Dewi Sartika, Poerma, dan Oewit. Di sekolah ini, anak-anak tidak hanya diajari keterampilan rumah tangga, seperti memasak, menyulam, menjahit, dan lain-lain. Tapi, aku juga mengajarkan pelajaran agama Islam dan bahasa Belanda.

Sekolah yang aku dirikan ini mendapatkan respon yang luar biasa dan perkembangannya pun cukup pesat. Setelah setahun buka, semakin banyak siswi yang mendaftar dan tempatnya tidak mampu lagi untuk menampung jumlah mereka. Di tahun 1905, Sakola Istri kemudian menambah kelas dan berpindah ke sebuah gedung di Jalan Ciguriang Kebon Cau yang mempunyai bangunan lebih luas. Lokasi ini dibeli olehku dengan uang tabungan pribadiku, serta penolongan dana langsung dari Bupati Bandung. Jumlah tenaga gurunya juga ikut bertambah. Setelah mengajar murid-murid selama beberapa tahun, sekolah itu akhirnya dapat meluluskan siswi-siswinya pertama kali pada tahun 1909.

Menurut orang-orang sekitar, aku tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik walaupun aku anak yang tomboi. Tak hanya fisikku saja, kepribadianku yang baik pun membuat banyak laki-laki di Cicalengka jatuh hati padaku. Salah satunya adalah sepupuku yang bernama Raden Kanjun Surianingrat. Tapi, lamaran itu ditolak olehku secara halus karena aku tidak mau menikah dengan sepupuku sendiri dan aku tidak mau dipoligami karena Raden Kajun sudah mempunyai seorang istri.

Setelah kejadian ini, aku pulang ke Bandung dan mulai sibuk mengurus sekolah yang baru aku didirikan. Namun hal ini membuat ibuku, Raden Ayu Rajapermas mulai gelisah. Pasalnya, anaknya belum juga mempunyai jodoh, padahal umurku sudah 20 tahun. Karena pada saat itu, saat berumur remaja seorang perempuan sudah dinikahkan oleh seorang pria muda ataupun dijadikan sebagai istri kedua.

Ibuku khawatir kalau sang anak tidak mau berumah tangga karena terlalu sibuk mengurus sekolahnya itu. Di tengah kekhawatiran tersebut, datanglah lamaran dari keluarga Pangeran Djajadiningrat yang pernah menjadi bupati Serang, bupati Batavia, dan anggota Volksraad. Ibuku pun bisa bernafas lega, tapi tidak berlangsung lama karena pinangan tersebut ditolak olehku karena aku sudah mempunyai tambatan hati yang pernah aku temui di Cicalengka saat mengantarkan sepupu-sepupuku untuk belajar yang bernama Raden Agah Kanduruan Suriawinata.

Setelah aku pindah ke Bandung, aku bertemu lagi dengan cinta pertamaku, Raden Agah Kanduruan Suriawinata saat acara pengajian di Pendopo Kabupaten Bandung setelah sekian lama. Sejak pertemuan itu, kami sering bertemu sambil membicarakan sekolah yang aku bangun itu. Ternyata dia orang yang sangat baik dan penuh semangat apalagi tentang pendidikan. Ternyata kita memiliki kesamaan visi dan misi yang sama mengenai pendidikan, hal ini membuat aku tambah semangat. Raden Agah Kanduruan Suriawinata telah banyak berperan dalam proses pendirian Sekolah Isteri. Ia tidak hanya memberikan dorongan motivasi, namun ia juga membantuku baik tenaga maupun pemikiran. Berkat Raden Agah Kanduruan Suriawinata pula, aku mampu memperjuangkan semuanya, tanpa kata lelah.

Setelah beberapa bulan, akhirnya Raden Agah Kanduruan Suriawinata melamarku dan aku menerimanya. Namun ibuku, Rajapermas, tidak menyetujui hubunganku dengan Raden Agah Kanduruan Suriawinata karena laki-laki pilihanku itu adalah seorang duda yang telah mempunyai 2 orang anak, yang kemudian salah satu anaknya meninggal menyusul ibunya dan bukan dari golongan ningrat. Raden Agah kini tinggal bersama ibunya dan seorang anaknya yang masih kecil. Sahabatku, Nyi Oewit, mempertanyakan pilihan yang aku buat.

“Apakah Uwi sudah mempertimbangkan seandainya Uwi sampai menikah dengan kang Agah?” tanya sahabatku.

“Maksudnya?” jawabku.

“Kang Agah itu kan duda…?” tampak sangat berhati-hati sahabatku itu bertanya.

Saat mendegar itu, akau langsung mengulum senyum dan mengerti arah pembicaraan sahabatku itu.

“Saya siap menjadi ibu dari anak Kang Agah. Lagipula mengurus anak piatu itu kan ibadah.”

Karena melihat kesungguhan hatiku. Akhirnya, ibuku, Raden Ayu Rajapermas pun menyetujui pernikahan dua sejoli yang bertemu pertama kali di Cicalengka saat mengantarkan sepupu-sepupunya dan bertemu lagi setelah sekian lama saat acara pengajian di Pendopo Kabupaten Bandung. Pada tahun 1906, di usiaku yang menginjak 22 tahun, aku resmi menikah dengan Raden Agah. Tentu saja, pernikahanku ini bukanlah sebuah keputusan yang akan aku sesali. Karena, Raden Agah memang orang baik dan sangat mendukung cita-citaku yang menginginkan pendidikan yang lebih baik dari kaum perempuan dan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dari pernikahan ini, aku dikaruniai anak laki-laki yang kuberi nama Raden Atot Suriawinata.

Pada tahun-tahun diberikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang mempunyai impian yang sama denganku. Pada tahun 1912 sudah bangun sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolah yang aku dirikan diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum mempunyai Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga atau empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap mempunyai Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang bangun di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, aku mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang sudah berumur 25 tahun, pemerintah memberikan sebuah gedung baru yang lebih luas. Sekolah itu kemudian berganti nama menjadi “Sekolah Raden Dewi” sebagai bentuk penghormatan atas perjuanganku. Namun kebahagian ini tidak berlangsung lama karena suamiku, Raden Agah telah meninggalkanku untuk selama-lamanya pada tanggal 25 Juli 1939. Saat itu aku harus berjuang sendirian mengurus sekolah-sekolah yang aku dirikan tanpa adanya sosok suami yang menyemangatiku. Setelah kepergian suamiku, semakin lama kesehatanku semakin menurun karena umurku sudah tidak muda lagi.

Kemudian pada tahun 1940 meletuslah Perang Dunia II yang membuat kondisi Hindia Belanda kocar-kacir, termasuk pula sekolah yang dibangun olehku. Sekolah-sekolah yang dibangun olehku kemudian mengalami kekurangan, baik dari segi keuangan maupun peralatan. Bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Bandung pun tidak bisa menutupi. Pada tahun 1942, keadaan pun masih sama dan bisa dikatakan semakin buruk setelah Jepang mengambil alih Indonesia. Aku harus bekerja lebih keras lagi agar sekolah yang sudah dibangunnya dengan susah payah tetap bisa beroperasi.

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, kondisinya juga tidak kunjung membaik. Terlebih lagi, dua tahun kemudian Belanda kembali datang dan memporak-porandakan negeri ini dan membuat suasana menjadi tambah genting. Akhirnya, dengan sangat berat hati akupun terpaksa meninggalkan sekolah yang susah-susah aku bangun dan mengungsi.

Selama melakukan pengungsian, aku berpindah-pindah dari Ciparay, Garut, Ciamias, hingga ke Cineam. Aku yang sudah tidak muda lagi, keadaan tersebut membuatku cukup kesulitan. Semakin lama kesehatanku makin menurun kemudian jatuh sakit. Sulitnya mencari obat-obatan membuat penyakitnya semakin parah. Ia dilarikan ke rumah sakit, tapi semuanya sudah terlambat. Pada tanggal 11 September 1947, kemudian aku menghembuskan nafas terakhirku pada usia 63 tahun dengan perasaan senang karena telah berhasil mewujudkan cita-citaku.

Komentar

  1. Teks cerita sejarah yang telah dibuat sangat menarik. Penulisan teks sudah benar dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat.

    BalasHapus
  2. alur ceritanya sangat menarik sehingga saya sangat menikmati cerita tersebut

    BalasHapus
  3. menarik banget ceritanyaa, ga bikin bosen

    BalasHapus
  4. ceritanya sangat bagus dan menarik untuk dibaca, penulisannya pun sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan yang benar

    BalasHapus
  5. Teks cerita yng dibuat sangat mnarik dan mnginspirasi. Cerita juga dibuat deengan rapi dan jelas 🤩

    BalasHapus
  6. Teks cerita sudah memiliki alur dan penulisan yang menarik sehingga tidak membosankan. Penulisan juga tertata rapi dan mudah dimengerti. Semangat!

    BalasHapus
  7. Ceritanya sangat menarik, alurnya juga tidak membosankan. Penulisannya pun rapi dan sesuai struktur

    BalasHapus
  8. Ceritanya sangat bagus dan alurnya menarik sehingga tidak membuat kita bosan dalam membacanya, tidak ada kesalahan kata dan penulisannya rapih

    BalasHapus
  9. Ceritanya bagus, selain itu kita bisa mengambil banyak pesan dari cerita hidupnya, cara penyampaian cerita pun cukup mudah di mengerti

    BalasHapus
  10. Alur cerita disajikan dengan menarik

    BalasHapus
  11. Teks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Cerita tersebut juga sudah memenuhi struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah. Penggunaan bahasa dan pemilihan katanya mudah dipahami sehingga pembaca dapat memahami isi cerita dengan baik ☺️👍

    BalasHapus
  12. Gaya bahasa yang digunakan mudah dimengerti, alur ceritanya menarik, dan menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benar

    BalasHapus

Posting Komentar